GELOMBANG

―untuk Zulaiman Dito di Tegal―

Seorang pelukis terpencil di kota kecil, termangu memandang sebuah lukisannya: "Gelombang", dan teringat ketika ia mengajak istrinya kawin, enam tahun yang telah lalu.
Alangkah sialnya, gerutu sang pelukis sambil memandang perut istrinya yang sedang mengandung, sementara kedua anaknya yang masih kecil-kecil menangis; merengek-rengek minta dibelikan es lilin.
Ia lalu membatin. Bulan kian jauh mengambang, kian jauh memandang.

Sepiring nasi basi
sepiring nasi basi
sepiring nasi basi

"Lukis aku ya mas." pinta istrinya tiba-tiba aleman.
"Ya, kulukis engkau nanti di atas bukit-bukit emas
tambang-tambang emas dan..." Ia lalu mendekati istrinya yang cantik tapi pucat, mencium keningnya dan mengelus-elus perutnya yang buncit si pelukis terpesona dan terharu, perut istrinya persis sebuah bukit emas yang padat, tapi gundul. Kembali jerit hatinya bertalu-talu.
Kembali ia membatin.

Sepiring nasi basi
sepiring nasi basi
Alangkah sedapnya sepiring nasi basi
berlauk sambal, ikan asin.

"Lukis aku ya mas." pinta istrinya kembali.
"Ya kulukis engkau bersama denganku nanti di sebuah biduk yang sedang tenggelam!" Keduanya terpaku lalu saling memandang. Sebuah biduk yang tenggelam digulung gelombang.



:Wijati―Tegal
-1291

0 Response to "GELOMBANG"

Posting Komentar

To Top Page Up Page Down To Bottom Auto Scroll Stop Scroll